SMP merupakan lembaga
pendidikan formal sesudah SD (Sekolah Dasar) dan merupakan perisiapan untuk
menuju SMA (Sekolah Menengah Atas). Perkembangan kurikulum pada tingkat SMP di Indonesia
sendiri mengalami 3 masa yang meliputi :
1. Masa
Penjajahan Belanda
2. Masa
Penjajahan Jepang
3. Masa
Republik Indonesia
1.
Masa
Penjajahan Belanda
Pada masa penjajahan
Belanda, kurikulum Sekolah Menengah Pertama yang formal sudah ada kesesuaiannya
dengan masa sekarang. Pada periode sebelum 1900, Sekolah Menengah Pertama mulai
ada pada zaman penjajahan Belanda dan didirikan pada 1960 yang bernama Gymnasium. Lama belajarnya 3 tahun, dan
siswa-siswanya hanya terbatas untuk orang-orang barat/golongan ningrat saja.
Hal tersebut didasarkan akan kebutuhan pegawai-pegawai yang berpendidikan baik
untuk jawatan-jawatan pemerintah maupun untuk organisasi-organisasi. Karena
jika pegawai-pegawai tersebut didatangkan langsung dari belanda atau orang
Belnda yang lahir di Indonesia harus di sekolahkan ke Belanda, maka biaya yang
dikeluarkan akan sangat mahal. Maka dari itu, pemerintah jajahan
menyelenggarakan sekolah dengan tujuan mendidik orang Belanda yang lahir di
Indonesia untuk dijadikan pegawai-pegawai menengah dan tinggi. SMP pada tahun
sebelum 1900, mata pelajaran yang diberikan berdasarkan kebutuhan akan pegawai
negeri (onderdeming). Penekanan mata
pelajarannya pada Bahasa Belanda, berhitung, ilmu ketatanegaraan, tata buku,
ilmu bumi dan ilmu hayat. Mata pelajaran ilmu bumi, sejarah dan tata negara
berpusat di Negara Belanda (Hamalik, 1990 : 142).
Situasi politik dunia
pada akhir abad ke-19 mengalami perubahan kareana ada revolusi sosial, industri
dan juga lainnya karena semakin berpengaruhnya aliran humanisme. Aliran
tersebut menuntut pemerintah jajahan agar memerhatikan rakyat jajahannya,
sehingga dibukalah sekolah untuk rakyat pribumi agar mendapatkan kesempatan
bekerja pada posisi agak tinggi. Sehingga, pada tahun 1893 Gymnasium dipisahkan
dengan pamong praja. Sekolah yang khusus mendidik calon pegawai disebut OSVIA
yang diperuntukkan untuk anak-anak ningrat bumiputera yang menunjukkan
persamaan dengan SMP sekarang. Selain itu, didirikaan pula HBS (Hogere Burgere School) yaitu Gymnasium
yang dikhususkan untuk orang Belanda dari golongan tinggi.
Pada periode 1914-1935 didirikan sekolah MULO yang lama belajarnya adalah 4
tahun. Di latarbelakangi oleh meluasnya paham humanitas dikalangan orang
Belanda, akhirnya pemerintah didesak untuk memperluas pendidikan bagi kaum
pribumi. Rencana pembelajaran MULO tidak jauh berbeda dari HBS dan Gymnasium,
hanya saja masa belajarnya ditambah satu tahun. Bahasa Melayu mulai dimasukkan
kedalam kurikulum sekolah lanjutan. Akan tetapi, pada periode 1935-1945 karena keterbatasan skill pada sekolah MULO, pemerintah
Belanda mengubah struktur organisasi MULO dengan mengembangkan bahasa Indonesia
(yang dulunya menggunakan bahasa Melayu) pada kelas tiga. Pengembangan ini
meliputi bagian bahasa sastra, bagian ilmu pasti alam, dan bagian social
ekonomi. Dari perubahan tersebut, dengan sendirinya isi dan materi kurikulum
juga turut berubah.
2.
Masa
Penjajahan Jepang
Pada masa penjajahan Jepang, kurikulum yang diterapkan bertujuan agar
rakyat dapat membantu pertahanan Jepang. Karena itu, vak yang diajarkan pada
masa pemerintahan Belanda diubah sesuai dengan keinginan bangsa Jepang.
Perubahan itu meliputi;
a.
Perubahan
bahasa (dari bahasa Belanda menjadi bahasa Jepang),
b.
Mata
pelajaran ilmu asli, ilmu hayat yang dijadikan pengetahuan dasar.
c.
Mata
pelajaran ilmu bumi, sejarah, tata Negara yang dahulunya terpusat pada Belanda,
sekarang berubah terpusat pada Jepang (Asia Timur Raya).
d.
Mata
pelajaran Gymnasium/pendidikan jasmani diberikan tiap hari sebelum masuk
sekolah. Sedangkan LDK (Latihan Dasar Kemiliteran) diberikan pada murid-murid
sekolah.
e.
Musik
nyanyian Belanda diganti menjadi musik nyanyian Jepang Asia Jaya yang diajarkan
disekolah Gayo.
f.
Dilaksanaknnya
SAPTA USAHA TAMA, dimana murid diharuskan menanami halaman sekolah dan rumahnya
dengan tanaman-tanaman yang berguna seperti jeruk, ketela, dan sebagainya.
Jadi, Kurikulum pada masa penjajahan Jepang banyak
mengalami perubahan.
3.
Masa Republik Indonesia
Pada masa Indonesia merdeka, yang diawali dengan Proklamasi Kemerdekaan
pada 17 Agustus 1945, yang telah menimbulkan hidup baru dalam segala bidang,
termasuk dalam bidang pendidikan. Sebagai pedoman bagi rakyat, pemerintah
menggunakan Rencana Usaha Pendidikan dan
Pengajaran yang telah disiapkan pada saat-saat terakhir pendudukan Jepang .
kemudian, Ki Hadjar Dewantara (menteri PP dan K) mengeluarkan instruksi umum
yang memerintahkan kepada semua kepala sekolah dan guru-guru, yakni;
1)
Pengibaran
Sang Saka Merah Putih dihalaman sekolah pada setiap harinya,
2)
Menyanyikan
lagu kebangsaan Indonesia Raya,
3)
Menurunkan
Bendera Jepang dan menghilangkan Kimigayo,
4)
Menghapuskan
bahasa Jepang dan semua upacara yang berasal dari balatentara Jepang,
5)
Memberikan
semangat kebangsaan kepada anak didik atau murid.
Kemudian
atas usul BPKNIP, tertanggal 29 Desember 1945, Menteri P & K membentuk
Panitia Penyelidikan dan Pengajaran. Panitia melakukan perombakan Sekolah
Menengah Pertama ala Jepang menjadi Sekolah Menengah Pertama ala Pribumi,
lamanya 3 tahun, dengan kategori-kategori:
1.
Bagian A : Bahasa dan pengetahuan
sosial.
2.
Bagian A : Ilmu pasti dan pengetahuan
alam.
Sekolah
ini diperuntukkan bagi semua anak Indonesia. Meskipun telah terjadi perombakan,
tetapi isi kurikulumnya sebagian masih ada yang merupakan lanjutan dari MULO,
milik Belanda. Agar lebih jelasnya, tabel 1 diharapkan dapat membantu.
Tabel 1. Rencana pembelajaran SMP RI 1945
|
No
|
Mata
Pelajaran
|
Jumlah
jam pelajaran dalam seminggu
|
|||||
|
I
|
II
|
IIIA
|
IIIB
|
||||
|
1
|
Bahasa
Indonesia
|
6
|
6
|
6
|
5
|
||
|
2
|
Bahasa
Daerah
|
2
|
2
|
3
|
2
|
||
|
3
|
Bahasa
Inggris
|
3
|
3
|
4
|
3
|
||
|
4
|
Berhitung/Aljabar
|
4
|
4
|
2
|
4
|
||
|
5
|
Ilmu
ukur
|
3
|
3
|
-
|
3
|
||
|
6
|
Ilmu
alam/kimia
|
2
|
3
|
2
|
5
|
||
|
7
|
Ilmu
hayat
|
2
|
2
|
2
|
2
|
||
|
8
|
Ilmu
bumi
|
2
|
2
|
3
|
2
|
||
|
9
|
Sejarah
tata negara
|
2
|
2
|
3
|
2
|
||
|
10
|
Pengetahuan
dagang
|
-
|
1
|
2
|
-
|
||
|
11
|
Seni
suara
|
1
|
1
|
1
|
1
|
||
|
12
|
Menggambar
|
1
|
1
|
1
|
2
|
||
|
13
|
Pekerjaan
tangan
|
1
|
1
|
1
|
1
|
||
|
14
|
Pendidikan
jasmani
|
3
|
3
|
3
|
3
|
||
|
15
|
Budi
pekerti
|
-
|
-
|
-
|
-
|
||
|
16
|
Agama
|
2
|
2
|
2
|
2
|
||
|
Jumlah
|
37
|
37
|
37
|
37
|
|||
|
Catatan
:
|
1.
Untuk kelas I 4 X 7 jam, Jum’at 3 jam, sabtu 6 jam
2.
Untuk kelas III dan II 3 X 7 Jam, 2 x 6 jam dan
jum’at 5 Jam
3.
Tiap jam pelajaran lamanya 45 menit
4.
Istirahat 2 x 5 Menit
|
||||||
|
|
|
||||||
Meskipun
sebelumnya Indonesia telah memiliki SMP, yaitu pada masa 1945-1950, sebagai
revisi dari MULO, namun belum semua anak Indonesia dapat mengenyamnya, karena
pada waktu itu belum semua wilayah Indonesia telah dikuasai oleh pemerintah RI.
Setelah
mengungsi ke Australia, Belanda ingin menjajah Indonesia lagi dengan mendirikan
NICA. Pemerintah RI yang legal mengalami pemindahan dari Jakarta ke Yogyakarta,
dan pihak Belanda terus melancarkan aksi militer I dan II (1947-1948).
Akhirnya, negara Indonesia mengalami perpecahan dengan berbagai daerah kantong.
Setelah terjadi KMB (Konferensi Meja Bundar) dan bergabung dalam RIS,
negara-negara bagian pun muncul.
Aplikasi
dalam pendidikan pun mengalami berbagai perbedaan antara satu negara bagian
dengan negara bagian lainnya. Bagi RI, tetap masih berlaku sistem pendidikan
yang ditetapkan, tetapi di luar RI kembali kepada MULO. Di negara Pasundan dan
Sumatera Timur IMS lamanya SMP adalah 4 tahun.
Dengan
dibentuknya NKRI pada tanggal 17 Agustus 1950, struktur dan sistem pendidikan
harus diseragamkan, dan sebagai pedomannya adalah SMP di Yogyakarta (milik RI) dan akan diberlakukan pada semua
SMP di tanah air, yang namanya diubah menjadi SMP Otomatis dengan kurikulum SMP
RI (Yogyakarta).
Perubahan
kurikulum baik SMP ataupun SMA secara umum mengalami perubahan sebanyak 10
kali, mulai dari tahun 1947 hingga sekarang. Hanya saja memang, untuk mata
pelajaran yang dimuat antara SMP dan SMA tentu saja jelas berbeda.
a. Kurikulum
1947
Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan
namanya Rencana Pelajaran 1947. Ketika itu penyebutannya lebih populer
menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang istilah curriculum dalam
bahasa Inggris. Asas pendidikan yang ditetapkan adalah Pancasila. Situasi
perpolitikan dengan gejolak perang revolusi, maka Rencana Pelajaran 1947, baru
diterapkan pada tahun 1950. Oleh karena itu Rencana Pelajaran 1947 sering juga
disebut kurikulum 1950. Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya
memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta
garis-garis besar pengajarannya.
Rencana Pelajaran 1947 lebih
mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat, daripada
pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari,
perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. Mata pelajaran untuk
tingkat Sekolah Rakyat ada 16, khusus di Jawa, Sunda, dan Madura diberikan
bahasa daerah. Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah,
Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Sejarah, Menggambar, Menulis, Seni
Suara, Pekerjaan Tangan, Pekerjaan Keputrian, Gerak Badan, Kebersihan dan
Kesehatan, Didikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran
agama diberikan mulai kelas IV, namun sejak 1951 agama juga diajarkan sejak kelas
1.
b. Kurikulum
1952
Setelah Rencana Pelajaran 1947, pada
tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini
diberi nama Rencana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada
suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari
kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi
pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Di penghujung era
Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya
pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana).
Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral,
kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah.
Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional
praktis.
c. Kurikulum
1964
Setelah tahun 1952, menjelang tahun
1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini
diberi nama Rencana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang
menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan
agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD,
sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana yang meliputi
pengembangan daya cipta, rasaZ, karsa, karya, dan moral. Mata pelajaran
diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan,
emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmani. Pendidikan dasar
lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
d. Kurikulum
1968
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan
dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan
dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan
kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi
pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan
pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya
untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan
beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan
keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
e. Kurikulum
1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan,
agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah
pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang
terkenal saat itu. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan
pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan
pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK),
materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi.
Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang
akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran
f. Kurikulum
1984 ( Kurikulum CBSA)
Kurikulum 1984 mengusung process skill
approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap
penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”.
Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu,
mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara
Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).
Kurikulum 1984 ini berorientasi kepada
tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman
belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus
benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau
menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang
harus dicapai siswa.
g. Kurikulum
1994
Kurikulum 1994 dibuat sebagai
penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2
tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem
pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem
caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi
tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima
materi pelajaran cukup banyak. Tujuan pengajaran menekankan pada pemahaman
konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
h. Kurikulum
2004 (KBK)
Kurikukum 2004 ini lebih dikenal dengan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pendidikan berbasis kompetensi
menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi)
tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan.
Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu
yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya
adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman
pembelajaran.
Kurikulum Berbasis Kompetensi
berorientasi pada:
1. Hasil
dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian
pengalaman belajar yang bermakna.
2. Keberagaman
yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya.
Tujuan
yang ingin dicapai menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara
individual maupun klasikal. Tahun 2004 pemerintah mengeluarkan kurikulum baru
dengan nama kurikulum berbasis kompetensi.
i.
Kurikulum 2006 (KTSP)
Kurikulum 2006 ini dikenal dengan
sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Awal 2006 ujicoba KBK
dihentikan, muncullah KTSP. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target
kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak
perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru
lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan
lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan
karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan
kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan
telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengembangan
perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan
satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah
Kabupaten/Kota.4
j.
Kurikulum 2013
Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada
pada upaya penyederhanaan, dan tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan
untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu
kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan.
Titik beratnya, bertujuan untuk
mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi,
bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka
peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Adapun obyek
yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013
menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya.
Melalui pendekatan itu diharapkan siswa
kita memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik.
Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya
mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di
zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.
Pelaksanaan penyusunan kurikulum 2013
adalah bagian dari melanjutkan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu, sebagaimana amanat UU 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada penjelasan pasal 35, di mana
kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah
disepakati. Paparan ini merupakan bagian dari uji publik Kurikulum 2013, yang
diharapkan dapat menjaring pendapat dan masukan dari masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Idi,
Abdullah. 2014. Pengembangan Kurikulum
Teori dan Praktik. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Fitri Wahyuni. 2015. Kurikulum dari Masa Ke Masa. Al-Adabiya, Vol. 10 No. 2 : 231-242.
Diambil dari : http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=KURIKULUM%20DARI%20MASA%20KEMASA&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjN89iIw9LdAhULuI8KHdMQDqcQFjABegQICRAC&url=http%3A%2F%2Fejournal.kopertais4.or.id%2Fmataraman%2Findex.php%2Falabadiyah%2Farticle%2Fview%2F2792%2F2062&usg=AOvVaw1rBR0JAlVVA9M9k9CyoOEK
( 24 September 2018)
Komentar
Posting Komentar